Sunday, April 12, 1992

Kisah Yang Terpendam



Hidup seperti sebuah kisah novel yang tak berkesudahan. Selalu ada babak baru dalam perjalanan kisah hidup seseorang. Termasuk didalamnya kisah cintanya.

Kisah yang kutulis ini mungkin nggak ada artinya buat orang lain, tapi sangat berarti buatku. Setidaknya setelah sekian lama kuabaikan, kusimpan, kupendam tapi tak pernah bisa kubuang, kumusnahkan, kulupakan...

Aku tiba-tiba dihadapkan pada suatu simpangan, yang padanya terpampang masa lalu dan masa kini. Keduanya menarikku untuk meniti jalan itu. Masa lalu tak pernah bisa kuanggap tak berarti, karena tiba-tiba semua seperti kembali. Masa lalu dimana seseorang pernah begitu amat sangat berarti, bahkan hingga kini. Setelah 15 tahun terpendam, tiba-tiba semua terungkap jelas. Setelah begitu lama terpisah, tiba-tiba rasa itu kian menguat dan menyatukan kembali cinta yang pernah hilang.

Sementara masa kini bagiku juga teramat penting, karena disini ada seseorang yang membuatku begitu berarti, seseorang yang baginya aku adalah masa kini dan masa depannya. Seseorang dengan siapa aku inginkan untuk menemaniku dimasa yang akan datang.

Aku sebenarnya tahu mana jalan yang harus kutuju, karena semua jelas. Kebenaran dan nurani pasti mengajakku melangkah di tempat mana seseorang yang pantas untukku telah menantiku.

Maka kutuliskan puisi-puisi disini, karena aku tak lagi ingin membohongi diri. Semua yang kupendam, telah kuungkap. Untuk siapa puisi-puisi tersebut kutuliskan, tlah kusampaikan. Lega rasanya. Karena puisi-puisiku tak perlu lagi kusimpan dan kuabaikan.

Yang kutulis disini, merupakan suatu kisah lama yang selalu menggangu pikiranku. Puisi tentang rasa yang tak pernah kuungkapkan kepada siapa perasaanku tertuju, puisi tentang cinta yang tak pernah kusodorkan kepada siapa aku jatuh cinta...

Selama ini semuanya cuma kusimpan, kuperam dan kupendam, hingga tiba-tiba aku sampai pada suatu titik dimana semuanya terungkapkan, terkatakan, terucapkan... lalu semua mengalir seperti air. Tercurah seperti hujan yang deras melimpah.

Dan cinta sepasang manusia menyatu, lupa siapa dirinya, lupa sekelilingnya... selain dendam pada waktu yang begitu lama terbuang percuma dan berlalu!


(1992)

Kututup Pintu Ruang Kenangan Itu Sesudahmu



12 April di tahun istimewa itu
kubuka pintu ruang itu dengan gemetar
di tengah deru yang menelan tawa cekikikan
lalu guntur dan serbuan derai hujan
menghias sesal yang datang belakangan

dan

kututup pintu ruang itu setelahmu
seraya meninggalkan kenangan terserak
sebagai sesuatu yang ingin kita lupakan
bahkan ketika rindu menyapa kita bergantian
kita tetap teguh dalam kesombongan dan kesendirian



(12 April 1992)
in a one spot, Cilandak

Wednesday, April 1, 1992

Pusaran Waktu


cinta tak ubahnya pusaran waktu
yang menyeretku kembali
ke masa ketika aku mengenalmu

kenangan demi kenangan kerap berganti

tapi masa ketika bersamamu selalu ada
melekati pikiranku
bertahan dan abadi


(April 1992)