Friday, June 14, 1991

Maka Kepada Siapa Harus Kusampaikan?


pelangi rindu


adakah kita sama merasakan rindu
yang mewarnai tidur dengan mimpi
yang membuat kita lukai sepi
yang membuat pagi datang cepat
yang membuat malam kian pekat

getaran ini mengacaukan pikiranku
kadang hangat membelenggu
kadang sesak menyergapku

ketika kau aku jauh, dan kita menyerah
lalu berjalanku liar tanpa arah
ah, tatapku pun kian redup
dipeluk kesedihan yang bertangkup

jika malam ini aku merindumu
maka kepada siapa harus kuberkata?



(14 Juni 1991)



Monday, June 10, 1991

Together Forever

Together Forever

Posted by Some One:



A Flash Back...


You know what i was doing this morning? I was riding my bike very slowly. Its not my habit. Feels like i have nothing to rush for. Cos you're not here so, I dont have any reason to be hurry being on my desk and start to dial your number. I miss you everytime you are far away...

I started to sing my song, the one that always remind me of you... 

Together Forever... wanna hear it?

My love,
forever you will always be my only love
forever you will always be my faithful love
it's always you
you'll always be...

My love,
forever you will be my first thing, only love,
for you alone i'll give my ever lasting love
i promise you
you'll always be

You and I
will never say goodbye
will never even wonder why
you and I
will always be together
forever love

 
You know what, my heart is always crying everytime i sing this song. No one will know unless you ask me to sing it for you, right before your ear, bcos you will definitely hear my voice shaking.

I love this song. Bcos it always reminds me of you. Use to be I love this song bcos this is the way i can get my self close to you in my mind, bcos i dont have you. Now i love this song bcos it make me feel so happy realizing that i have you now. I love you.

So, just a flash back about this song before I start my day.
I miss you...


10 June 1991, 09.30am

Thursday, June 6, 1991

Mari Kita Bicara Cinta

Mari Bicara Cinta


love

Cinta itu seperti sebuah organisme, sesuatu yang hidup dan terus tumbuh. Berkembang, membesar, meninggi, menguat, tak ubahnya seperti sebuah tanaman. Dimulai dari sesuatu yang sangat kecil yang kita sebut benih, Cinta bisa berkembang menjadi tunas, pucuk, pohon kecil yang kemudian berubah menjadi pohon yang menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang lebat dipenuhi daun-daunan. Cinta tak ubahnya menjadi seperti tempat seseorang mencari perlindungan, tempat seseorang singgah, mencari ketenangan dan kedamaian.

Dulu pernah tumbuh subur satu cinta dalam hatiku. Satu perasaan yang mulanya tak pernah kuanggap sebagai sesuatu yang istimewa. Suatu perasaan yang mulanya hanya sebagai benih  kecil tak berarti yang kulempar sembarang dan tak pernah kuanggap apa-apa. Namun  perlahan tetapi pasti benih itu tumbuh subur. Bersemi dan bertunas. Lalu tertanam dalam melahirkan akar. Lalu akarnya menguat, setiap seratnya mengcengkeram setiap sel-sel di dalam ruang hati. Tiga tahun tanaman liar itu kuabaikan dan kubiarkan tumbuh dan bersemi. Sesuatu yang belakangan kusadari adalah suatu kesalahan karena setelah itu ia terus hidup dan tak pernah mati, hingga kini.

Lalu ketika aku sadar, aku terlambat. Cinta itu telah berubah menjadi sebuah pokok pohon kayu yang begitu kuat. Kokoh. Bertahan hidup meski tak pernah kusirami. Tahun demi tahun kulalui, musim demi musim berganti. Lama kubiarkan cinta itu merana, tanpa pernah kusirami, tapi tak juga mati. Meski daun-daunnya sempat berguguran karena sinar matamu tak pernah lagi membakar jiwaku, meski ranting-rantingnya meranggas dan patah satu dua ketika rinduku tak pernah bisa menggapaimu, ketika kering kerontang pokok batangnya mengharap dirimu, masih saja cinta itu tegak berdiri. Menanti datangnya hari demi hari, dimana aku bisa mengucapkan kata-kata itu tepat di hadapanmu... 'Aku mencintaimu'.

Dan ketika hari itu tiba, kesempatan itu datang, lalu terucapkanlah semua yang selama ini terkubur, kata-kata yang selama ini menanti untuk diucapkan, bahwa aku mencintaimu... Maka, tiba-tiba saja kematian menjadi fatamorgana. Pohon cinta ini serentak menghijau dan segar semerbak, ketika seluruh putik berubah menjadi aneka bunga. Sari-sarinya kuhirup, dan membuatku kembali hidup... Aku mencintaimu. Aku mencintaimu menjadi bahasa harian yang tak pernah bosan terucapkan. Aku mencintaimu menjadi lagu yang berulang kali dinyanyikan tapi tak pernah jemu datang. Dan Aku mencintaimu menjadi percakapan dua  arah yang saling bersahut-sahutan. Aku mengucapkan dan kau mendengarkan, dan sebaliknya.

Seketika setiap daun berubah menjadi rindu, yang tak pernah habis meski berkali-kali kita petik. Dan cabang-cabangnya menjadi tempat kita bercengkerama, kuat dan liat, mengayunkan tubuh-tubuh kita dalam alunan berirama. Kita terlena dalam bahagia. Kita seperti dua anak kecil yang bermain ayunan, melambungkan diri kita setinggi-tingginya lalu meluruk meluncur mengayun ke bawah untuk kemudian melambung lagi meninggi. Sementara kita begitu asyik tertawa-tawa, sambil memejamkan mata dan menengadahkan kepala. Mendongak. Menikmati setiap sensasi yang lahir dari setiap apapun yang kita lakukan, sensasi yang muncul dari apapun yang kita ucapkan.

Dan seperti katamu, setiap pertemuan kita seperti air yang menghidupi tanaman ini. Membuatnya makin subur tumbuh bersemi, segar, berseri dan asri. Seringnya pertemuan kita tak membuat kita menjadi bosan seperti kekhawatiranku selama ini, justru sebaliknya membuat kita makin dalam tenggelam berkubang rindu. Sesaat saja kau hilang dari pandanganku, sekejap itu rindu datang lagi tak henti bergemuruh bertalu. Hingga esok menjadi hari yang selalu kita tunggu-tunggu, ketika kita bertatap mata dan membiarkan hati berbicara, lagi dan lagi.

Ah, biarlah... Tak perlu aku mengusik-usik soal waktu. Karena aku mencintai kamu, dulu, kini dan waktu-waktu yang kelak mendatangiku.


(Juni 1991)

Monday, June 3, 1991

Aku Merindumu Tiap Kali Kau Tak Ada

Dear You,


Semalam aku rindu kamu, rindu sekali. Begitu kuatnya perasaan kangen ini menguasai. Aku merasa sesak. Aku tak tahu harus bagaimana, how to deal with this feeling, karena saat itu kamu tak ada, dan aku tahu kita tak mungkin bisa bertemu. Kita terpisah oleh jarak dan waktu.

Rasa ini aku kenali, persis seperti dulu ketika aku harus menelan rindu ini sendiri, ketika kita belum jalan bersama. Jiwaku lapar sekarat dan menggelepar, menginginkan kamu.

Malam itu aku rindu menatapmu lekat-lekat seperti terakhir kita bertemu. Ya, aku ingin lagi menikmati saat-saat diam bersamamu, dan membiarkan mata kita bicara sejuta kata, tanpa bibir kita perlu berkata-kata. Menikmati getar dan debar yang membuatku hangat, dan membiarkan jiwa kita menyatu, lebur bersama waktu.

Aku rindu mandi hangat sinar matamu, seperti daun merindu hangat sinar mentari. 

Aku rindu lumat wajahmu yang teduh, lalu melekat wajahmu erat di benakku. 
Wajahmu jelas terpampang tiap kali mataku terpejam. Aku tak bisa melupakan kamu, karena tiap detik bayang wajahmu menjelma, begitu jelas dalam ingatanku. Kehadiranmu di dalam jiwaku sangat berarti, begitu besarnya. 

Aku merindu kamu tiap kali kau tak ada...



 
(3 Juni 1991)
-tengah malam-