Tuesday, October 8, 1991

Yang Terpendam Dari Masa Lalu


 episode biarkan aku mencintaimu diam-diam


berapa lama kubuang waktu percuma
ketika kumulai kesalahan itu,
dan selanjutnya menjadi lagu sesal
yang terus terulang berputar-putar

pernah kuputuskan untuk mencintaimu
diam-diam, kupendam, kuperam
dan sepanjang waktu berlalu
berlembar kerinduan tergores lewat penaku
menari-nari menceritakan gundahnya hati
mendambamu, merindumu, dengan sembunyi

mungkin malam dan sepi menangis bersama
denganku, mengiris waktu hari demi hari
menunggu hatimu terbuka, untukku
sedang aku tak pernah memintanya padamu...

dan waktu demi waktu berlalu
membiarkanku lesu lunglai layu tergugu
merekat lembar demi lembar kelopak jiwaku
gugur satu demi satu
seiring purnama yang berlalu, tanpamu

andai waktu dapat kuputar kembali
maka aku akan meminta padamu
izinkan aku mencintaimu dengan lantang
tanpa sembunyi



(Oktober 1991)
kilatan kisah lama, dari bendi raya

Monday, October 7, 1991

Perempuan Dari Masa Lalu

"perempuan dari masa lalu"


dulu, nama ini begitu lekat dengan hari-hariku. malam-malam yang  panjang kulalui dengan menatap telanjang bintang-bintang di langit yang hitam, mencari-cari bayangnya. dulu, susah mati kusembunyikan segenap perasaanku tiap kali berdekatan dengannya.

dulu, kuhabisi jam-jam kosong di kelas dengan mencuri-curi pandang, untuk menikmati profil wajahnya yang begitu terpahat sempurna, karena bagiku dia adalah belahan Dewi Sumbadra (dalam puisiku sempat kutulis sebagai... O, dara belahan Sumbadra, bunda kecantikan segala di maya). dulu, kubenahi hatiku yang hancur berserak ketika perpisahan tak terelakkan dan terjadi karena perjalanan waktu, ketika kita sama-sama lulus sekolah, selesai menamatkan pelajaran di SMA.

dulu, berpuluh-puluh puisiku mengalir deras bak air bah. kutuliskan  berlembar-lembar kertas tentang puja, tentang rindu, tentang kekagumanku... tentang cinta, tentang dirinya. ya, aku memang mencintainya. cinta pertamaku di masa remaja. juga cinta yang membunuh keceriaan remajaku ketika aku sadar, aku bertepuk sebelah tangan!

tapi setelah itu cinta tak pernah mati. untuknya, gadis aquariusku, ada satu lembar cinta di hati yang tak pernah mampu untuk kumatikan. tak pernah sanggup untuk kurobek dan kumusnahkan bersama waktu yang berjalan begitu panjang.

kusadari itu setelah kemarin, tanpa ada angin dan hujan, ponselku berdering dan menampilkan satu nomor asing yang tak pernah kukenali sebelumnya. dan suara yang terdengar setelah kuangkat adalah suara perempuan itu, gadis aquariusku! aduh, mak! empat belas tahun aku tak pernah mendengar suaranya, tak sedetikpun setelah perpisahan itu!!!

dan suara yang kudengar adalah suara yang sedikit bergetar, memastikan apakah yang menerima panggilannya itu adalah benar aku. "halo. ini kamu, Pras?" sedikit bergetar, dia bertanya. dan aku sangat-sangat-sangat-sangat teramat sangat menyesal telah menerima teleponnya dengan nada datar dan berpura-pura enggan, hingga percakapan terhenti tanpa ada kesan. aku nggak tahu apakah rasaku yang telah mati, atau kesombonganku yang telah menguasai diri yang menyebabkanku seperti kemarin itu.

"perempuan dari masa lalu"

begitu banyak yang ingin kutahu tentang dirinya, sejak salam perpisahan dengannya tahun '89 yang lalu.

haruskah kumulai pagi ini dengan selamat pagi untuknya??? keraguan menyelimutiku.


(jakarta, 7 oktober 1991)

Tuesday, October 1, 1991

Secarik Catatan Pendek


Buku-buku itu menarikku
menggetarku
mendekapku
minta kembali kubaca

begitu lama aku tenggelam
dalam gundah dan mati rasa
kesalku berbuhul
pepatku bergumul,
dan mengental

buku itu kembali kubaca
jemariku kembali membelai
mengusap lembarnya
mendekap penanya
dan aku merindunya

seperti rindu yang dulu kupunya
untukmu!


(1991)


Saturday, September 28, 1991

Di Biru Langit Mana Kita Pernah Bicara?


di manakah pada titik langit biru
kita pernah bercumbu, lupa waktu?
serasa baru terjadi hari kemarin

begitu lama kurapikan duka luka
persis di hari terakhir kita tak lagi tegur sapa
sepi. sunyi. bayangmu melintas menggodai
aku kau diam teguh pada kata perpisahan

langit yang kuhindari begitu luas
biru. sendu. menggoda. mencandu.
aku rindu tengadah dan tengadah
mencarimu (meski terus saja mencoba lupakanmu)

di biru langit mana kita pernah bicara?


(28 Sep 1991)



Tuesday, July 9, 1991

Monolog Untukmu (2)



barangkali kau tak pernah memperhatikan,
sisi lain dari kematian adalah keindahan
seperti rembulan yang bulat terang di tengah kelam
rekah oleh cabang-cabang pohon asam
yang mengering diambang kematian;
adakah lelapmu pernah memanggilku?

seperti ketika kesepian merekam rindu-rindu
tentangmu yang tak pernah henti berbinar
tiap kali mataku terjerat gemintang berpendar
malam berlalu tak pernah seperti dulu
ketika khayalku sibuk melukis bayangmu
ketika kenangan tentang kita berbuih
memenuhi ruang di benakku yang merepih

aku merindumu dan mati sunyi!
dan kerinduan ini adalah cerita kematian indah
tentang malam yang penuh warna
bukan cuma hitam!
bukan cuma kelam!
ketika getar di tubuhku selalu saja bersorak
tiap kali kudesiskan namamu..
masih ada cinta, selalu ada rindu!

mungkin jika kau perhatikan:
bulan yang sama lewat siluet kematian pepohonan
yang meranggas,yang meratap lemas,
maka akan kau temukan sisi keindahan suatu kematian
seperti aku menemukan keramaian kisahmu
di tengah kekosongan jiwaku

seperti aku yang tak pernah jemu menatapi bulan itu!


(9 Juli 1991)

Friday, June 14, 1991

Maka Kepada Siapa Harus Kusampaikan?


pelangi rindu


adakah kita sama merasakan rindu
yang mewarnai tidur dengan mimpi
yang membuat kita lukai sepi
yang membuat pagi datang cepat
yang membuat malam kian pekat

getaran ini mengacaukan pikiranku
kadang hangat membelenggu
kadang sesak menyergapku

ketika kau aku jauh, dan kita menyerah
lalu berjalanku liar tanpa arah
ah, tatapku pun kian redup
dipeluk kesedihan yang bertangkup

jika malam ini aku merindumu
maka kepada siapa harus kuberkata?



(14 Juni 1991)



Monday, June 10, 1991

Together Forever

Together Forever

Posted by Some One:



A Flash Back...


You know what i was doing this morning? I was riding my bike very slowly. Its not my habit. Feels like i have nothing to rush for. Cos you're not here so, I dont have any reason to be hurry being on my desk and start to dial your number. I miss you everytime you are far away...

I started to sing my song, the one that always remind me of you... 

Together Forever... wanna hear it?

My love,
forever you will always be my only love
forever you will always be my faithful love
it's always you
you'll always be...

My love,
forever you will be my first thing, only love,
for you alone i'll give my ever lasting love
i promise you
you'll always be

You and I
will never say goodbye
will never even wonder why
you and I
will always be together
forever love

 
You know what, my heart is always crying everytime i sing this song. No one will know unless you ask me to sing it for you, right before your ear, bcos you will definitely hear my voice shaking.

I love this song. Bcos it always reminds me of you. Use to be I love this song bcos this is the way i can get my self close to you in my mind, bcos i dont have you. Now i love this song bcos it make me feel so happy realizing that i have you now. I love you.

So, just a flash back about this song before I start my day.
I miss you...


10 June 1991, 09.30am

Thursday, June 6, 1991

Mari Kita Bicara Cinta

Mari Bicara Cinta


love

Cinta itu seperti sebuah organisme, sesuatu yang hidup dan terus tumbuh. Berkembang, membesar, meninggi, menguat, tak ubahnya seperti sebuah tanaman. Dimulai dari sesuatu yang sangat kecil yang kita sebut benih, Cinta bisa berkembang menjadi tunas, pucuk, pohon kecil yang kemudian berubah menjadi pohon yang menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang lebat dipenuhi daun-daunan. Cinta tak ubahnya menjadi seperti tempat seseorang mencari perlindungan, tempat seseorang singgah, mencari ketenangan dan kedamaian.

Dulu pernah tumbuh subur satu cinta dalam hatiku. Satu perasaan yang mulanya tak pernah kuanggap sebagai sesuatu yang istimewa. Suatu perasaan yang mulanya hanya sebagai benih  kecil tak berarti yang kulempar sembarang dan tak pernah kuanggap apa-apa. Namun  perlahan tetapi pasti benih itu tumbuh subur. Bersemi dan bertunas. Lalu tertanam dalam melahirkan akar. Lalu akarnya menguat, setiap seratnya mengcengkeram setiap sel-sel di dalam ruang hati. Tiga tahun tanaman liar itu kuabaikan dan kubiarkan tumbuh dan bersemi. Sesuatu yang belakangan kusadari adalah suatu kesalahan karena setelah itu ia terus hidup dan tak pernah mati, hingga kini.

Lalu ketika aku sadar, aku terlambat. Cinta itu telah berubah menjadi sebuah pokok pohon kayu yang begitu kuat. Kokoh. Bertahan hidup meski tak pernah kusirami. Tahun demi tahun kulalui, musim demi musim berganti. Lama kubiarkan cinta itu merana, tanpa pernah kusirami, tapi tak juga mati. Meski daun-daunnya sempat berguguran karena sinar matamu tak pernah lagi membakar jiwaku, meski ranting-rantingnya meranggas dan patah satu dua ketika rinduku tak pernah bisa menggapaimu, ketika kering kerontang pokok batangnya mengharap dirimu, masih saja cinta itu tegak berdiri. Menanti datangnya hari demi hari, dimana aku bisa mengucapkan kata-kata itu tepat di hadapanmu... 'Aku mencintaimu'.

Dan ketika hari itu tiba, kesempatan itu datang, lalu terucapkanlah semua yang selama ini terkubur, kata-kata yang selama ini menanti untuk diucapkan, bahwa aku mencintaimu... Maka, tiba-tiba saja kematian menjadi fatamorgana. Pohon cinta ini serentak menghijau dan segar semerbak, ketika seluruh putik berubah menjadi aneka bunga. Sari-sarinya kuhirup, dan membuatku kembali hidup... Aku mencintaimu. Aku mencintaimu menjadi bahasa harian yang tak pernah bosan terucapkan. Aku mencintaimu menjadi lagu yang berulang kali dinyanyikan tapi tak pernah jemu datang. Dan Aku mencintaimu menjadi percakapan dua  arah yang saling bersahut-sahutan. Aku mengucapkan dan kau mendengarkan, dan sebaliknya.

Seketika setiap daun berubah menjadi rindu, yang tak pernah habis meski berkali-kali kita petik. Dan cabang-cabangnya menjadi tempat kita bercengkerama, kuat dan liat, mengayunkan tubuh-tubuh kita dalam alunan berirama. Kita terlena dalam bahagia. Kita seperti dua anak kecil yang bermain ayunan, melambungkan diri kita setinggi-tingginya lalu meluruk meluncur mengayun ke bawah untuk kemudian melambung lagi meninggi. Sementara kita begitu asyik tertawa-tawa, sambil memejamkan mata dan menengadahkan kepala. Mendongak. Menikmati setiap sensasi yang lahir dari setiap apapun yang kita lakukan, sensasi yang muncul dari apapun yang kita ucapkan.

Dan seperti katamu, setiap pertemuan kita seperti air yang menghidupi tanaman ini. Membuatnya makin subur tumbuh bersemi, segar, berseri dan asri. Seringnya pertemuan kita tak membuat kita menjadi bosan seperti kekhawatiranku selama ini, justru sebaliknya membuat kita makin dalam tenggelam berkubang rindu. Sesaat saja kau hilang dari pandanganku, sekejap itu rindu datang lagi tak henti bergemuruh bertalu. Hingga esok menjadi hari yang selalu kita tunggu-tunggu, ketika kita bertatap mata dan membiarkan hati berbicara, lagi dan lagi.

Ah, biarlah... Tak perlu aku mengusik-usik soal waktu. Karena aku mencintai kamu, dulu, kini dan waktu-waktu yang kelak mendatangiku.


(Juni 1991)

Monday, June 3, 1991

Aku Merindumu Tiap Kali Kau Tak Ada

Dear You,


Semalam aku rindu kamu, rindu sekali. Begitu kuatnya perasaan kangen ini menguasai. Aku merasa sesak. Aku tak tahu harus bagaimana, how to deal with this feeling, karena saat itu kamu tak ada, dan aku tahu kita tak mungkin bisa bertemu. Kita terpisah oleh jarak dan waktu.

Rasa ini aku kenali, persis seperti dulu ketika aku harus menelan rindu ini sendiri, ketika kita belum jalan bersama. Jiwaku lapar sekarat dan menggelepar, menginginkan kamu.

Malam itu aku rindu menatapmu lekat-lekat seperti terakhir kita bertemu. Ya, aku ingin lagi menikmati saat-saat diam bersamamu, dan membiarkan mata kita bicara sejuta kata, tanpa bibir kita perlu berkata-kata. Menikmati getar dan debar yang membuatku hangat, dan membiarkan jiwa kita menyatu, lebur bersama waktu.

Aku rindu mandi hangat sinar matamu, seperti daun merindu hangat sinar mentari. 

Aku rindu lumat wajahmu yang teduh, lalu melekat wajahmu erat di benakku. 
Wajahmu jelas terpampang tiap kali mataku terpejam. Aku tak bisa melupakan kamu, karena tiap detik bayang wajahmu menjelma, begitu jelas dalam ingatanku. Kehadiranmu di dalam jiwaku sangat berarti, begitu besarnya. 

Aku merindu kamu tiap kali kau tak ada...



 
(3 Juni 1991)
-tengah malam-

Tuesday, May 14, 1991

Aku Sempat Merasakan Mati


aku sempat merasa mati
ketika kau pergi dulu. bertahun lalu.
sedang aku belum lagi memiliki mu.

jadi jangan kau tanya sampai kapan
jangan tanya keyakinan perasaanku
tentang kamu
karena saat ini aku sedang takut
takut mati menjadi sesuatu yang pasti
karena aku mencintaimu
dan tak mungkin bisa memiliki

kau dan aku mungkin menyatu
atau terpisah oleh takdir yang kita miliki
jadi, mencintaimu seperti tengah berjudi
dan taruhannya adalah jiwaku

memilikimu dan terus hidup
atau melupakanmu lalu mati



(14 Mei 1991)

Tuesday, April 30, 1991

Suatu Ketika Aku Pernah Melukismu

suatu ketika aku pernah melukismu,

jauh.. di batas kesadaranku.
ketika nyata kugoreskan
sebuah sketsa..
wajahmu yang bersahaja
mempesona

lalu aku tenggelam menikmati keindahanmu
di tiap detil wajahmu yang sempurna
tenggelam dalam kubangan rasa tentangmu
dan berpusar menjadi mimpi
tentangmu..
tentangmu..
melulu tentangmu!

menggenangi seluruh kesadaranku
kau begitu menjeratku
kau nyata lukisan pesona
membuatku jatuh cinta..


(30 April 1991)



Tuesday, April 23, 1991

Menyatu Kita, Menyatu Jiwa


antara kau dan aku
tak ada lagi sisa-sisa kisah masa lalu
semua lebur ketika hari ini
terpatri dalam kisah baru

warna kita memang tak sama
kau beraneka
dan aku hitam, biru, gelap
tapi sore itu semua senada
menjadi jingga

antara kau dan aku ada cinta
menyatu jiwa
menyatu kita



(23 April 1991)
-a very long conversation, #03


Friday, April 19, 1991

Sederhana Saja



maafkan;

jika permintaanku terlalu banyak
tapi yang kuinginkan darimu 
sederhana saja

hatimu... 


(19 April 1991)


Saturday, April 13, 1991

Kau, Aku... Kita (Yang Terserak Dari Masa Lalu)

kau, aku... kita
akhirnya memang ada 'kita'
kau, aku... kita
akhirnya merenda
dua hati, penuh rindu dan cinta

kau, aku... kita
kekuatan hati yang berbicara
selama apapun waktu terentang
cinta datang pada waktunya
pada akhirnya!




(13 April 1991)
-after the kiss...

Friday, April 12, 1991

Antara Kau dan Aku


antara kau dan aku
cuma terbatas oleh waktu
sepanjang jalan yang kita lalui

antara kemarin dan hari ini
hanya soal rasa yang tertumpah
untukmu, sosok yang kurindui

antara dulu dan kini
semua menyimpan kisah yang sama
tak ada yang berubah



(12 April 1991)

Separuh Usia Aku Mencintaimu




separuh usiaku telah kuhabiskan
melukiskan wajahmu dan menorehkan
kenangan yang tak sempat kita jalani bersama
sepanjang itu kau melekati

jika hari ini kau sentuh hatiku kembali
maka kan kubiarkan seluruh kenangan sirna
karena aku akan memulai hari-hari
dengan kau dalam pelukan
dan tak lagi menunggu dan menunggu

semua tak sia-sia!
karena hati kita kini satu
aku mencintaimu,
sepanjang paruh usia kulewati



(April 1991)

Tuesday, April 2, 1991

Dulu Pernah Kusampaikan Rindu


dulu pernah kusampaikan rindu
pada angin yang lewat bekukan malam
pada bintang-bintang di langit kelam
pada lengang yang rajai di jiwaku
yang bertahta di ketinggian sepi

tak peduli kau tak tahu
tak sedetikpun lari menjauhi bayang
meski kau aku terpisah waktu yang panjang
tanpa kepastian, tanpa pertemuan
cinta sesaatpun tak pernah mati

kini aku ingin menyampaikan padamu
sederhana saja, lewat bibir yang bicara
biarkan kurebahkan hati lelah ini
di anjangsana jiwamu yang kurindui
setelah penantian panjang dan bertubi

‘aku mencintaimu selama ini’



(April 1991)

Terbanglah

Terbanglah




Terbanglah...


bagaimana aku bisa lupa tentang kamu, jika setiap pagi kulalui dengan sayup-sayup deru mesin jet yang melintasi angkasa rumahku? setiap itu pula aku tengadah, dan berpikir kau di sana, mengangkasa, membawa rinduku yang sejak dulu tak pernah henti merekah, meski sempat terpatah-patah... dan kini menggumpal membuncah.

kau satu yang pernah memaksaku mengguratkan berlembar-lembar kerinduan yang tak terbalas... kau satu yang pernah membuatku berubah menjadi seseorang yg hilang akal, yang hanya mengerti kata malas... kau satu yang pernah mengilhamiku untuk membuat berbaris kata-kata tentang puja dan cinta, keinginan yang tak bertuan.

kau satu yang mengajariku untuk berteman dengan malam dan kesepian. dari waktu ke waktu. malam demi malam. bergelut sepi dan kegelapan. dan mimpi-mimpiku terangkum sebagai perjalanan panjang sebuah keinginan... aku ingin meleburkan hati yang dulu keras membeku dan membatu. setidaknya sekali saja, sebelum aku mati.

kini, usai sudah penantianku yang panjang dan sunyi. karena setiap saat deru itu menyapaku, aku tahu kau disana menatap ke arahku. membawa kisah kita yang baru. membawa rinduku yang kini kau pun tahu.

terbanglah kemanapun angin membawamu. karena di tengah hamparan putihnya awan gemawan di ketinggian tempatmu, kamu akan selalu ada dihatiku. Rindu telah kusematkan dalam kesadaranmu... kita akan selalu berjumpa lagi, suatu hari nanti.

'klik'



(2 April 1991)
-long distance call... jakarta - menado

Friday, March 29, 1991

Kisah Masa Lalu


jarak yang terbentang diantara kita
mungkin hanya setipis kulit ari
karena kau tak pernah jauh
melekati relung hati

waktulah yang memisahkan kita
dalam kenangan abadi yang sama
ada rindu yang kau dengungkan
seperti aku disini, ada keinginan kulafalkan
menemuimu!

lalu bisakah kita menghapus dahaga kita
dengan sekali saja tatapan dalam
ketika tatapku tatapmu berpelukan
dalam bahasa yang sama kita pahami
ketika aku membuka hati
ketika kita berdiam diri

ahh, sepertinya semua kenanganku basi
kecuali satu...
kenangan tentangmu!



(29 Maret 1991)
@Musicafe

Saturday, January 5, 1991

Pada Sebuah Wajah

Pada Sebuah Wajah


pada sebuah wajah,
kusematkan kenangan yang tak pernah sirna,
cinta yang tak mengenal akhir,
seperti siang dan malam yang terus bergulir, 

tak kenal lelah... 
pada sepasang mata,
kan kudekap binarmu yang teduh tak terlupa...
kurekam lekat-lekat di benakku yang tak jemu,
melukis keindahan pesona tatapmu,

tak usang waktu... 
pada selembar sukmamu,
kurekatkan diam-diam di bingkai mimpiku,
rindu mengaliri segenap impianku...
mencumbumu di keheningan tidur lelapku, 

tak ingin kuterjaga... 

(05 jan 1991)



> Compiled