Thursday, December 24, 1992

Interlude


rinduku yang penuh melimpah ruah
lewat kata-kata tercurah
tertuang di lembar-lembar kesunyian
rapi tersimpan di sudut keraguan
diam ditelan keheningan

gerangan di sudut mana
harus kusimpan wajahmu?

tak pernah bisa terlupakan
tak pernah bisa terhapuskan


(24 Des 1992)

Saturday, November 14, 1992

Karena Akan Selalu Masih Ada Cinta Untukmu

Masih Ada Cinta




terbanglah. singgahi kota demi kota
negeri-negeri indah menanti langkahmu semampai
lenggokmu gemulai, tinggalkan jiwa-jiwa terkulai
merindu cantikmu. menanti hatimu.

dan pulanglah. kembali ke kota kita.
negeri yang tak pernah henti menangis.
di tempat mana kita punya ukiran kisah manis
di sini aku 'kan selalu membuka pelukanku
dan menerimamu, jika kelak kau kembali.

rebahlah. aku 'kan pelukmu njaga.
karena akan selalu masih ada cinta
untukmu...



(14 Okt 1992) 
-kepak sayap garuda



Wednesday, November 4, 1992

Karena Aku Mencintaimu, Sedang Kau...



jika hari ini aku tak menyapamu
dalam rindu, dalam benak, dan semerta gerak
atau dalam keberanianku yang ujud,
berupa sebaris pesan: i miss u
mungkin itu karena aku mencintaimu!

dan jika kau menginginkan kejujuran
atas pertanyaan yang kerap kau ajukan;
gerangan apakah yang ada diantara kita,
bisa kita sebut Cinta?

maka aku 'kan membohongimu dan menjawab:
itu bukan CINTA!

agar dengan itu, kita bisa meleburkan rindu
dan tak ada lagi bahasa kalbu 
lekat mengendap dari hati ke hati
agar kau bebas pergi, 
dan aku bisa berlari;

karena aku mencintaimu,
sedang kau milik lelaki itu
~ dan anak-anak yang membutuhkanmu!


(November 1992)
jakarta – solo  jeddah



Jika Hari Ini Aku Tak Menyapamu



jika hari ini aku tak menyapamu
dalam rindu, dalam benak, dan semerta gerak
atau dalam keberanianku yang ujud,
berupa sebaris pesan: i miss u
mungkin itu karena aku mencintaimu!

dan jika kau menginginkan kejujuran
atas pertanyaan yang kerap kau ajukan;
gerangan apakah yang ada diantara kita,
bisa kita sebut Cinta?

maka aku 'kan membohongimu dan menjawab:
itu bukan CINTA!

agar dengan itu, kita bisa meleburkan rindu
dan tak ada lagi bahasa kalbu 
lekat mengendap dari hati ke hati
agar kau bebas pergi, 
dan aku bisa berlari;

karena aku mencintaimu,
sedang kau milik lelaki itu
~ dan anak-anak yang membutuhkanmu!


(November 1992)
jakarta – solo  jeddah



Tuesday, November 3, 1992

Satu Lagi Rindu Tentangmu

semalam aku bermimpi tentang kamu. seakan-akan kita berada di masa ketika pertama aku mengenalmu. aku nggak ngerti mengapa tiba-tiba saja mimpiku seperti ini. karena masa itu telah lewat bertahun-tahun lamanya, saat kita pertama kali berjumpa. masa sma.


aku tak ingin menyesali waktu yang terlewat. hanya saja... jika aku boleh berandai-andai, maka aku berharap bisa memulai perjalanan waktu dan kembali ke masa ketika pertama mengenalmu. dan aku akan mengatakan kejujuranku sejak awal agar kita tak perlu menunda bertahun-tahun, sebelum akhirnya kita sama-sama menyadari kita saling mencintai. seperti saat ini.

semalam aku bermimpi melihatmu dalam keceriaan dan kecentilan, seperti bayangan tentangmu yang selama ini rapi kusimpan dalam memori. aku tak tahu ini apa, tapi mimpi itu membuat perasaan ini kembali mengalir seperti semula. rindu tentangmu yang bertubi-tubi dan membahana.

aku berharap kamu selalu berbahagia.


(3 November 1992)
another dream about you



Monday, November 2, 1992

Tentangmu (1)

adakah yang lebih menyedihkan;

selain dari pada jiwa riuh dalam rindu
sedang kau tak ada di rengkuhanku
hari ini kita menghitung lagi purnama
dalam tautan satu rasa
kau, aku, kita punya cinta yang sama

beberapa putaran bulan sudah aku lewati;
dengan kau menjadi bagian kehidupanku
entah bagaimana dan bila tibanya
adakah kita bisa menjadi bagian satu dan lainnya
atau kita hanyalah mozaik tanpa rupa
sejak dulu hingga di penghujung masa



(2 Nov 1992)



Monday, September 21, 1992

Kepada Sepi Yang Mendadak Sirna (karena sebaris sms pagi itu)...

kepada sepi,

dua bulan lebih aku dan dia sepakat untuk tidak berhubungan lagi. tak ada pesan rindu yang saling aku dan dia sampaikan selama itu. dua bulan ini aku larung dalam sepi.

seringkali aku berusaha menduga gerangan apa yang dia pikirkan tentang aku. aku merasa seakan-akan aku orang yang tidak memiliki hati dan perasaan. entah kenapa, tapi selalu saja ada dalam pikiranku bayangan tentang dirinya.

adakah kita sama-sama menjadi orang yang kehilangan kepekaan? adakah dia sama merasakan kepedihan seperti aku, ketika aku harus selalu membunuh keinginan itu? keinginan untuk merekat hati yang telah kita cerai beraikan dua bulan lalu.

sebenarnya apa yang terjadi dengan aku dan dia?

dua bulan lalu aku dan dia sepakat dan sama-sama menyadari kesalahan kita, menjalani apa yang tidak seharusnya kita jalani. lalu kita sama-sama sadar untuk menyudahi apa yang seharusnya tidak kita mulai. kita memang harus berpisah. kita sepakat tak boleh ada lagi 'kita'.

dua bulan ini aku berjuang menutupi luka yang kerap timbul hari demi hari ketika rindu menyerang dan melukai seluruh tubuhku. dua bulan ini aku matikan seluruh perasaanku dan mengabaikan keinginan yang menggeram... keinginan memeluknya, keinginan mengabarkan rindu ini padanya.. keinginan membiarkan perasaan ini terus membuncah.

lalu ketika aku tahu apa yang dia rasakan selama dua bulan ini, aku harus bagaimana? apakah aku harus tetap membatu dan membiarkan kepedihannya lebur bersama waktu yang terabaikan?

siang itu aku terlonjak saking gembira. sms masuk ke hpku. dari dia. beep... beep... dan kubuka:

i miss u so much...

haaa???
tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba dia mengatakan hal itu.

sms lain membuatku limbung dalam kebimbangan.  

aku tahu kita begini karena memang aku yang meminta. 
selama ini aku berusaha melupakan kamu, tapi aku nggak bisa. sebenarnya apa yg terjadi dengan kita? aku... sayang kamu. 

dan aku tak mampu lagi menahan luka ini berdarah lebih lama. aku tahu obatnya. aku dan dia rindu untuk bicara.

lalu sepi serenta pergi...

Tuhan, apa yang harus kulakukan? tetap dalam diam dan menyakitinya? atau melakukan sesuatu untuknya tapi menyakiti seseorang yang lain?


(21 September 1992)

Sunday, August 2, 1992

Monolog di Malam Yang Kesekian Kali

Kita memang selalu bercakap-cakap dalam keheningan, di rentang malam yang menua, di tingkah semilir angin yang mendirikan bulu roma, karena dalam keheningan segala bisikan dapat terdengar, serona bayang jelas terlihat, memeta rupa.


Seperti deretan bintang-bintang yang setia menemani ketika malam meninggi, seperti itu pula jengkal demi jengkal rupamu menari-nari di tiap bidang dan sudut yang kutelanjangi. Membuatku sia-sia dalam  kepicingan mata yang lelah menghindari sosok dan rupamu yang jelas terlukis di retina penglihatanku.

Dan kau, entah kusengaja dan kuharap atau setengah mati kuhindari, selalu saja memulai percakapan kita ditengah kebisuan yang melingkupi. Sepertinya kau berbisik padaku. Bertanya-tanya adakah aku tengah mengingatmu.

Hmm, adakah?

Dan aku.. Aku tak mampu lagi berdiri di tengah sadarku yang makin beku, di rentang antara mimpi dan terjagaku. Langit gelap dan bintang terang, tak pernah jemu menarikku menengadahkan kepala. Mencari di bintang mana mata kita selalu bercengkrama.. di rasi mana hati kita berbicara.

Oh, ya.. Aku memang masih merindumu. Kuakui itu, masih. Meski aku tak tahu lagi apakah masih pantas ada kata rindu untuk kita. Ataukah harus kita anggap sama sekali tak ada, sementara debar-debar hangat selalu saja mengusikku tiap kali namamu terlintas, sesingkat apapun.

Dan aku.. sepertinya malam tak 'kan pernah sepi dari percakapan denganmu. Monologue tentangmu.

Tak pernah...


(awal agustus 1992)



Sunday, July 26, 1992

Maafkan Aku



maaf, jika kita teruskan..
sepertinya kita hanya akan terus saling melukai

aku masih memiliki rindu untukmu. 
ada. tak pernah hilang.

rindu sepertinya tak 'kan pernah cukup
buat kita memahami perasaan hati
dan luka yang tak bisa kita hindari
ketika kau aku saling diam membungkam
seakan kita tak pernah bertemu?

maaf, jika ini kita hentikan, 

aku 'kan melukaimu lebih dari diri sendiri
karena aku tak tahu masihkah rindu kau punya
ketika malam kudengungkan segudang tanya

dan aku terhempas dalam jurang tak berdasar
ketika kau tak lagi memperdulikan aku,
ketika aku kehilangan senyum dan tawa
ketika dadaku sesak kekurangan udara
ketika kebisuan menjadi bahasa kita

kau mengabaikan rindu dan rasa sesalku

maaf, aku tak tahu apa yang harus kulakukan
merindumu dalam erangan kesakitan
membencimu dengan luka yang merebak
atau melupakanmu dan mati terserak

maafkan...

 

(Juli 1992)

Tentang Kita Yang Hanya Tinggal Kenangan



yang paling kunikmati dari kenangan tentangmu
adalah ketika kita duduk bersama
kau redakan kerinduan yang gegap gempita
dan aku menggenggam hatimu penuh cinta

kita bicara seadanya tentang esok
dan telusuri kenangan bertahun lalu

jalan telah kita lewati panjang berliku
dan kita jatuh tenggelam dan terpesosok

sejatinya, kini kusadari ketika kau tak ada
ketika sudut itu tinggal bangku tak bermakna

bahwa diantara masa lalu dan nanti 
tak akan pernah ada kisah kita terpatri



(1992)
Just passing by Bendi Raya

Saturday, July 18, 1992

Berpisah, Yang Terbaik Untuk Kita




selalu ada sesuatu yang indah dari perpisahanmeski melahirkan sakit tak tertahankan
betapa hati merepih dirundung pedih
rindu yang menyiksa jiwa menggelepar
namun keikhlasan menjadikan kita tegar

yang tertinggal hanya cinta dan kenangan
tak terlupakan. terpatri sepanjang perjalanan
kenangan yang menghangatkan setiap kali kuingat

rindu yang tak hendak berhenti mencintaimu

sejatinya, tak perlu kumemaksa memilikimu
karena kau tak pernah dipelukku, sejak dulu
tapi cinta tak pernah meninggalkan ruang hati
aman terpendam, terperam, tersimpan, abadi

kau selalu dalam keindahanmu, 

lestari di mimpiku.



(18 Juli 1992)
-terbaik buat kita-

Monday, July 13, 1992

Rindu Selalu Saja Menggayuti


pagi;
ketika wajah terjilat mentari
hangat yang memudarkan mimpi
sedang aku masih ingin tenggelam

kau datang lagi, menyapa semalam
dan meninggalkan goresan luka

kulekat wajahmu dalam diam
lalu bisu bawa kau menghilang
tinggali aku di keheningan

pagi;
sesaat lagu menjadi sunyi
menyisakan ruang kesenyapan
tak berdinding
menyekap, mencekik
sukmaku yang kian buta

pagi;
kuresap mimpi yang hilang
sisa kepedihan bersemayam
aku masih tak mengerti,

mengapa rindu
selalu saja lekat menggayuti


(13 Juli 1992)
-dream about you-

Sunday, July 12, 1992

Hendak Kemanakah Kita?


terpuruk aku, ketika kau tinggalkan
musim demi musim berjalan
lembar demi lembar cinta kutuliskan
terjerembab, aku merinduimu
waktu demi waktu

kekosongan berkata, kau tak pernah ada
beberapa musim tak ada beda
dan hati mulai bertanya ketika dia datang
aku mencintainya, dan ia mengisiku
lalu janji sakral kemudian mengikatku

lunglai aku, ketika kau datang kembali
dan hati kita sama-sama bernyanyi
tentang rindu kita yang terpanggang waktu

jadi, jika biduk kita telah sama berisi
kemana perjalanan kita berikutnya?

hendak kemanakah, kita?



(12 Mei 1992)
-after the talk

Sunday, May 10, 1992

Menarilah Kita di Deburan Pantai Kuta


Adakah malam ini kita berselimut langit yang sama?
Ketika kejora berpendar kemilau, menghiasi peraduan
kau lebur bersama debur dan cinta di pantai kuta
dan aku memeluk rinduku sepanjang jalan

malam ini hatiku terbelah. sepi dan riang tercacah

beberapa malam kulalui dengan tubuh tak berisi
karena jiwaku melekat di sayap-sayapmu
dan sukmaku beranjangsana di dipan hatimu
yang tersisa hanya kesepianku dan langit tinggi

setiap saat deru melintasi angkasa, ajakku tengadah

malam ini aku merindumu sesukaku, sebisaku
dan kita berpelukan pada jari-jari kita
pada layar digital telephone selular
yang tak pernah berhenti bergetar

Membisikkan khayal yang sama, 
Menarilah kita, di deburan pantai Kuta.



(10 Mei 1992)
*Jakarta - Bali




Unforgettable

untukmu yang tak terlupakan;


sore ini aku ingin bercerita kepadamu
tentang kubah kesombongan yang runtuh
bangunan yang selama ini kubangun
dan kuabadikan sebagai menara kemenangan
musnahnya kerinduanku tentang warna kita

kau aku lama tak bicara, tak apa
aku menerjang keheningan, meradang rupa
dan aku berpaling dari bayangan tentangmu
marah, menegang, geletar... merindu
tak kuabaikan gejolak memanggil gelisahku

dan sore ini aku tergugu duduk layu
ketika semua meluruh jatuh merapuh
meninggalkan suara sunyi dan sesang sepi
kebisuan yang menyekap berbalut gelap

semua yg pekat meremang dan hilang
selain desir angin menggurat di nadiku
selalu ada namamu


(10 May 1992)



Sunday, April 12, 1992

Kisah Yang Terpendam



Hidup seperti sebuah kisah novel yang tak berkesudahan. Selalu ada babak baru dalam perjalanan kisah hidup seseorang. Termasuk didalamnya kisah cintanya.

Kisah yang kutulis ini mungkin nggak ada artinya buat orang lain, tapi sangat berarti buatku. Setidaknya setelah sekian lama kuabaikan, kusimpan, kupendam tapi tak pernah bisa kubuang, kumusnahkan, kulupakan...

Aku tiba-tiba dihadapkan pada suatu simpangan, yang padanya terpampang masa lalu dan masa kini. Keduanya menarikku untuk meniti jalan itu. Masa lalu tak pernah bisa kuanggap tak berarti, karena tiba-tiba semua seperti kembali. Masa lalu dimana seseorang pernah begitu amat sangat berarti, bahkan hingga kini. Setelah 15 tahun terpendam, tiba-tiba semua terungkap jelas. Setelah begitu lama terpisah, tiba-tiba rasa itu kian menguat dan menyatukan kembali cinta yang pernah hilang.

Sementara masa kini bagiku juga teramat penting, karena disini ada seseorang yang membuatku begitu berarti, seseorang yang baginya aku adalah masa kini dan masa depannya. Seseorang dengan siapa aku inginkan untuk menemaniku dimasa yang akan datang.

Aku sebenarnya tahu mana jalan yang harus kutuju, karena semua jelas. Kebenaran dan nurani pasti mengajakku melangkah di tempat mana seseorang yang pantas untukku telah menantiku.

Maka kutuliskan puisi-puisi disini, karena aku tak lagi ingin membohongi diri. Semua yang kupendam, telah kuungkap. Untuk siapa puisi-puisi tersebut kutuliskan, tlah kusampaikan. Lega rasanya. Karena puisi-puisiku tak perlu lagi kusimpan dan kuabaikan.

Yang kutulis disini, merupakan suatu kisah lama yang selalu menggangu pikiranku. Puisi tentang rasa yang tak pernah kuungkapkan kepada siapa perasaanku tertuju, puisi tentang cinta yang tak pernah kusodorkan kepada siapa aku jatuh cinta...

Selama ini semuanya cuma kusimpan, kuperam dan kupendam, hingga tiba-tiba aku sampai pada suatu titik dimana semuanya terungkapkan, terkatakan, terucapkan... lalu semua mengalir seperti air. Tercurah seperti hujan yang deras melimpah.

Dan cinta sepasang manusia menyatu, lupa siapa dirinya, lupa sekelilingnya... selain dendam pada waktu yang begitu lama terbuang percuma dan berlalu!


(1992)

Kututup Pintu Ruang Kenangan Itu Sesudahmu



12 April di tahun istimewa itu
kubuka pintu ruang itu dengan gemetar
di tengah deru yang menelan tawa cekikikan
lalu guntur dan serbuan derai hujan
menghias sesal yang datang belakangan

dan

kututup pintu ruang itu setelahmu
seraya meninggalkan kenangan terserak
sebagai sesuatu yang ingin kita lupakan
bahkan ketika rindu menyapa kita bergantian
kita tetap teguh dalam kesombongan dan kesendirian



(12 April 1992)
in a one spot, Cilandak

Wednesday, April 1, 1992

Pusaran Waktu


cinta tak ubahnya pusaran waktu
yang menyeretku kembali
ke masa ketika aku mengenalmu

kenangan demi kenangan kerap berganti

tapi masa ketika bersamamu selalu ada
melekati pikiranku
bertahan dan abadi


(April 1992)

Sunday, March 8, 1992

Catatan Dari Masa Lalu

catatan dari masa lalu

dulu pernah kutitipkan rindu untukmu
dan kulekatkan di sayapsayap asa
yang membawamu melambung jauh,
di atas megamega impianmu membuncah
meninggaliku rakit cinta yang lesu dan patah

kepergianmu seakan cahaya, meniti waktu
meninggali masaku hingga tak ada 'kita'
meski tak pernah kita mengucap selamat tinggal
kukira rindu yang kutitipkan tak akan kembali 
rupanya aku lupa tentang kesetiaan mentari
yang kembali terbit menerpakan cahayamu

ternyata kau kembali!!!


(8 Maret 1992)

Friday, February 21, 1992

Berapa Malam

berapa malam kau meratapi kegelapan

yang menyinggahi jiwa-jiwa yang beku
setelah perpisahan itu
sepertinya tak ada lagi perbedaan
siang tak ubahnya malam
tanpa suara hening nada

*selain rindu yang bertalu tanpa irama

sejak saat kehilangan itu,
hingga pagi tadi dan malam ini
entah esok pagi jika masih ada matahari
berapa malam lagi menghitung waktu,
wahai perempuan dalam mimpiku..

*mungkin selamanya hingga nanti..


(21 Feb 1992)



Saturday, February 1, 1992

Ketika Rindu Bertumpuk


Ketika rindu bertumpuk
menggantung dan bergelayut
Bantal tetirahku kutepuk
Dan sebaris doa kubisikan lembut
Kuharap di mimpiku kau merasuk
Kita saling cumbu dan bergelut


(Feb, 1992)