Sunday, December 31, 1989

Tepukan Sunyi



Sayup,
sejuta dengung bergaung

Sunyi,
seonggok cinta serenta bernyanyi

Aku menepuk!
sunyi...
lagi!!
tetap sunyi...

Dan serona sadar njelma
hibur aku dan cerita;

tepukanku tak bermakna

Ya, tepukanku
tepukan satu tanganku


(Cipete, Des 1988)




Kepada Dara Bermata Memikat


(di penghujung kebersamaan, menjelang perpisahan)


“dalam hati ini tiba-tiba ada lagi rindu mengalir
di rentang malam dan gemulai angin semilir”

“dalam ini kuharap tiba, pagi cepat mendatang
tuk mengikis habis serpihan rona malam”

“dalam ini pagi membias bilur pedang surya
yang menerobos dari balik mega tajam menghunjam bumi
seperti bayangmu menetak lekat di ruang jiwaku”

“dalam ini sehabis malam pulang,
ternyata rindu tak jua lenyap seperti embun yang menguap”

"Aku masih merindu kamu ternyata "


(Des 1989)



Lengang

(Tentang si dara bermata memikat)



Pernahkah kau sadar, bahwa ketika kau pergi, senja seketika beranjak pergi? Malam pun larut dalam pekat, menebar kabut mengambang. Membawa musik sunyi mengerik konser merdu cengkerik.

Ketika kau tak ada, sunyi alam ini; sepi dalam jiwaku seketika. Berteman lengang dan desah gundah. Berpeluk kesunyian yang asing penuh raut-raut bisu nan mati.

Kurayapi kabut dengan sepasang lengan tanpa jemari dan mata yang lelah menyipit kedap kedip, tatapi genit gemintang kerlap kerlip. Sepi membui segenap diri; sunyi matikan rasa dan asaku; didera rindu.

Oh, simpul tak berujud ikat kaki. Berilah celah tuk satu langkah buatku perpendek jarak dua hati. Satukan malamku dengan malamnya, tanpa tetirah. Hingga matahari muncul memerah.

Mengingatmu, sampailah aku dibatas sejuta asa yang melemah. Menuju bentuk merona jingga, melepas sukmaku rebah lelah. Dan tetirahku mengguratkan rindu: tentangmu!


(Des 1989)