Wednesday, March 21, 1990

Entah Mengapa?


entah mengapa
aku selalu merasa mendengarmu tertawa
entah mengapa
aku selalu dihantui rekah senyummu
entah mengapa
aku selalu diburu sesalku
entah mengapa
aku tak tahu batas antara
bersikap bodoh atau berlaku bijaksana
entah mengapa
aku tak tahu harus merasa apa
menyesal kini ataukah bangga

entah mengapa?


(21 maret 1990)


* Compiled

Tuesday, March 20, 1990

Aku Menatap Cinta Itu, Berlalu


aku menatap cinta itu, berlalu

terbawa angin dingin yang pergi

tergantikan musim yang kini mengering

sebentar lagi, bulan April ini



tak akan lagi kaca-kaca bening bernyanyi

seperti ketika titik hujan mengetukkan jari

bermusik rintik-rintik kemeritik

di jendela yang berembun memburam



seperti kesejukkan yang dulu melingkupi

kini tak ada lagi tanah basah di pagi hari

dengan daun perdu segar bercuci muka

meranggas dibakar matahari murka



aku menatap cinta itu, berlalu

tergantikan sesang sepi dan bisu

menyapa wajahku leleh berkeringat

melebur lembar-lembar hati menguap



(20 Maret 1990),
pergantian musim

aku berdiri di persimpangan, sore itu

aku berdiri di persimpangan, sore itu

langit rembang petang, meredup
mewarnai suasana hatiku, mati
pun angin enggan basuhi wajahku

berdiri di kelapangan, sepi melata
keheningan mencekik menjerat membelenggu
tak ada lagi aroma butir-butir tanaman cinta
yang dulu membaui syaraf penciumanku

cahaya. kemana cahaya itu pergi?
aku dalam kebutaan dan jalan tak bertuan
sia-sia aku memicing mata perih berair
kesombongan yang kuperam
matikan tunas cinta di kegelapan

aku berdiri mematung patah arang
sekitarku meredup gelap dan menghilang
tak ada lagi helai rambut legam kukagumi
ketika dulu bermandi nyibak air surgawi

aku berdiri di persimpangan, sore itu
melepas sayap-sayapku satu-satu
aku tak pantas menyimpannya lebih lama
dan cinta meredup bersama matahari yang tua
tergelincir dan fana


(20 maret 1990)
pergantian musim


Monday, March 19, 1990

Elegi Pagi (2)


hujan pagi…

kusapa engkau
lewat lelehan tetes air di kaca
bening dan dingin

hujan pagi…

panjang dan lama mendera
kucari bayangmu
di bias kacamataku
sia-sia…

sepi memelukku


(19 Maret 1990)

Sunday, March 18, 1990

Ohh...

Ohh...


Ohh...

jaraknya semakin jauh dariku

dan lelah kaki melepuh

semakin perlambat langkah

rindu semakin erat membebat

menekan dada dengan berat

menambah napas pepat



Ohh...

sedang engkau semakin cantik

menambah belalak mataku

kerap lebar terbuka di malam-malam bisu

sejuta wajahmu, sejuta dimana-mana

matamu menatap kilau-kemilau

legam berbinar tajam



Ohh...

tertipu aku akan mataku

segala dimana wajahmu ada

getar pun terus njelma

menghentak jiwa bergolak

padamu ada segala cerita puja

padamu ada segala khayali

ku bertualang ke tengah bimbang

sedang sepi tonggak di jalan



Ohh...



(Maret 1990)