Sunday, May 10, 1992

Menarilah Kita di Deburan Pantai Kuta


Adakah malam ini kita berselimut langit yang sama?
Ketika kejora berpendar kemilau, menghiasi peraduan
kau lebur bersama debur dan cinta di pantai kuta
dan aku memeluk rinduku sepanjang jalan

malam ini hatiku terbelah. sepi dan riang tercacah

beberapa malam kulalui dengan tubuh tak berisi
karena jiwaku melekat di sayap-sayapmu
dan sukmaku beranjangsana di dipan hatimu
yang tersisa hanya kesepianku dan langit tinggi

setiap saat deru melintasi angkasa, ajakku tengadah

malam ini aku merindumu sesukaku, sebisaku
dan kita berpelukan pada jari-jari kita
pada layar digital telephone selular
yang tak pernah berhenti bergetar

Membisikkan khayal yang sama, 
Menarilah kita, di deburan pantai Kuta.



(10 Mei 1992)
*Jakarta - Bali




Unforgettable

untukmu yang tak terlupakan;


sore ini aku ingin bercerita kepadamu
tentang kubah kesombongan yang runtuh
bangunan yang selama ini kubangun
dan kuabadikan sebagai menara kemenangan
musnahnya kerinduanku tentang warna kita

kau aku lama tak bicara, tak apa
aku menerjang keheningan, meradang rupa
dan aku berpaling dari bayangan tentangmu
marah, menegang, geletar... merindu
tak kuabaikan gejolak memanggil gelisahku

dan sore ini aku tergugu duduk layu
ketika semua meluruh jatuh merapuh
meninggalkan suara sunyi dan sesang sepi
kebisuan yang menyekap berbalut gelap

semua yg pekat meremang dan hilang
selain desir angin menggurat di nadiku
selalu ada namamu


(10 May 1992)