Tuesday, June 30, 2015

Hhhh (Jarak Itu Semakin Jauh)

Hhhh…



Hhh...
jarak itu semakin jauh
dan lelah kaki melepuh
semakin perlambat langkah

Hhh...
rindu ini makin membebat
menekan dada berat
menambah nafas pepat

Hhh...
sedang kau semakin cantik
buatku terjaga mataku
melukismu dimalam-malam bisu

Hhh...
sejuta wajahmu, sejuta dimana
matamu menatap berkilau
legam semburat tajam memukau

Hhh...
Tertipu aku akan mataku
segala dimana wajahmu ada
getar pun terus njelma,
mengusik sukma

Hhh...


(1988)

Wednesday, June 30, 1993

Tentangmu (2)

kepada kau:


suatu ketika dulu pernah kulukis wajahmu,
lalu kucintai, kusimpan dan kurawat
goresan-goresan yang menjadi kian lekat
titik dan garis yang memeta kuat
tak lekang oleh waktu

lalu aku terus mengingatmu, merindu
cinta tentang kau yang bertunas dan subur
kusemai bersama impian berjuta
kupupuk hari demi hari, terpendam di hati

jadi jika hari ini atau nanti kau tak ada
dimanapun kau dan aku berada
aku akan memetik rindu yang bersemi
tentangmu terukir rapi dibenakku

abadi...


(30 Juni 1993)
Mengigau aku...


Sunday, June 20, 1993

Pada Sebuah Jendela


pada sebuah jendela
kurapatkan sejurus tatap,
dibening bola mata membulat
indahnya sempurna.

seketika binar itu membelenggu.
aku terpejam terseret waktu,
dan tenggelam.
nikmati bimbang dalam diam, 
termangu, tergugu
menatap sinarmu

pada sebuah jendela
kurapalkan sebuah tanya,
gerangan apa yang mendadak menyiksa

ada rasa menyeruak tak terkata
beribu rasa, bertabur
membentuk bingkai-bingkai
mengisi mimpi dan kembang tidur


(Juli 1993)


Tuesday, June 15, 1993

Akan Kita Bawa Kemana?

A Long Telephone Conversation


Dear You,

Kau tahu, di hatiku selalu ada pertanyaan-pertanyaan itu? Akan kita bawa kemana semua ini? Dimana kita akan bermuara? Apa ending yang paling niscaya untuk kita? Selalu saja berkecamuk pertanyaan-pertanyaan itu di pikiranku.

Aku tahu apa yang kita lakukan ini salah. Tapi kesadaran tentang hubungan kita ini selalu saja kalah. Kalah oleh rindu yang selalu datang menderaku. Aku menyerah. Perasaanku yang menginginkanmu selalu saja mengalahkan kesadaran untuk meninggalkan semua ini.

Aku harus bagaimana? Aku tak mengerti...

Setiap kali kuputuskan untuk melepaskan semua perasaan yang masih melekati kisi-kisi perasaanku, kau kembali hadir menyadarkanku bahwa itu akan menempatkanmu dalam kepedihan. Dan yang kau aku rasakan saat ini ketika kita biarkan meluap, menggelegak, menyeruak... semuanya adalah kebahagiaan bagi kita, bagi kau.. aku, ketika kita sesaat melupakan semua sekitar kita.

Semalam kita berbicara tentang mimpi. Kau mengusikku dengan mimpi yang selama ini sebenarnya selalu kukubur dalam-dalam... Aku memilikimu, kau memiliki aku. Semalam kita bercakap-cakap bahagia dan bertukar tawa. Namun hakekatnya hati kita melenguh, merintih perih, dan menagis. Aku bisa merasakan itu ditengah derai tawa candamu yang mengalir seperti angin semilir.

Kenapa kita masih memimpikannya? sedang kita sama-sama tahu kita tak pernah berani untuk mewujudkannya. Kau memiliki kehidupanmu, dan aku memiliki kehidupanku. Ada yang salah pada kita. Dan kita sama-sama tahu. Kebenaran selalu saja mengakhiri percakapan kita dengan desah panjang dan kesepian tak berkesudahan. Tapi kenapa rindu yang datang selalu saja mengalahkan semua kebenaran?

I Love You,,,

 

(Juni 1993)