Selamat malam, alam. Alangkah sepinya engkau dengan polesan langit pekat kelam bermusik kerik-kerik cengkerik. Namun pada wajah engkau ini, alam, aku mendapatkan sesuatu nan begitu agung, dari-Nya, nan kerap getarkan jiwa dalam sanubari. Cinta.
Raut malammu, alam, begitu ramah nerima, pun angkuh menatap. Begitu dingin mencekam pun syahdu lantunkan lagu bisu. Aku kerap tersadar dalam ini, alam. Betapa aku yang pongah membusung dada, sesungguhnya hanyalah aku yang kerdil tinimbang mayapada.
Aku, alam, dalam rentang tanganmu sealam raya adalah aku, setitik debu belah selaksa-laksa. Dengan malammu, alam, basuhlah bara dalam jiwaku dengan titik bening mutiara. Mutiara nan bakal terserak percuma di esok hari. Beningnya embun pagi. Agar aku dapat duduk tafakur mensyukuri nikmat dari-Nya
(April 1988)
No comments:
Post a Comment