Sunday, December 31, 1989

Lengang

(Tentang si dara bermata memikat)



Pernahkah kau sadar, bahwa ketika kau pergi, senja seketika beranjak pergi? Malam pun larut dalam pekat, menebar kabut mengambang. Membawa musik sunyi mengerik konser merdu cengkerik.

Ketika kau tak ada, sunyi alam ini; sepi dalam jiwaku seketika. Berteman lengang dan desah gundah. Berpeluk kesunyian yang asing penuh raut-raut bisu nan mati.

Kurayapi kabut dengan sepasang lengan tanpa jemari dan mata yang lelah menyipit kedap kedip, tatapi genit gemintang kerlap kerlip. Sepi membui segenap diri; sunyi matikan rasa dan asaku; didera rindu.

Oh, simpul tak berujud ikat kaki. Berilah celah tuk satu langkah buatku perpendek jarak dua hati. Satukan malamku dengan malamnya, tanpa tetirah. Hingga matahari muncul memerah.

Mengingatmu, sampailah aku dibatas sejuta asa yang melemah. Menuju bentuk merona jingga, melepas sukmaku rebah lelah. Dan tetirahku mengguratkan rindu: tentangmu!


(Des 1989)




No comments:

Post a Comment