Monday, June 3, 1991

Aku Merindumu Tiap Kali Kau Tak Ada

Dear You,


Semalam aku rindu kamu, rindu sekali. Begitu kuatnya perasaan kangen ini menguasai. Aku merasa sesak. Aku tak tahu harus bagaimana, how to deal with this feeling, karena saat itu kamu tak ada, dan aku tahu kita tak mungkin bisa bertemu. Kita terpisah oleh jarak dan waktu.

Rasa ini aku kenali, persis seperti dulu ketika aku harus menelan rindu ini sendiri, ketika kita belum jalan bersama. Jiwaku lapar sekarat dan menggelepar, menginginkan kamu.

Malam itu aku rindu menatapmu lekat-lekat seperti terakhir kita bertemu. Ya, aku ingin lagi menikmati saat-saat diam bersamamu, dan membiarkan mata kita bicara sejuta kata, tanpa bibir kita perlu berkata-kata. Menikmati getar dan debar yang membuatku hangat, dan membiarkan jiwa kita menyatu, lebur bersama waktu.

Aku rindu mandi hangat sinar matamu, seperti daun merindu hangat sinar mentari. 

Aku rindu lumat wajahmu yang teduh, lalu melekat wajahmu erat di benakku. 
Wajahmu jelas terpampang tiap kali mataku terpejam. Aku tak bisa melupakan kamu, karena tiap detik bayang wajahmu menjelma, begitu jelas dalam ingatanku. Kehadiranmu di dalam jiwaku sangat berarti, begitu besarnya. 

Aku merindu kamu tiap kali kau tak ada...



 
(3 Juni 1991)
-tengah malam-

No comments:

Post a Comment