untukmu yang tak terlupakan;
sore ini aku ingin bercerita kepadamu
tentang kubah kesombongan yang runtuh
bangunan yang selama ini kubangun
dan kuabadikan sebagai menara kemenangan
musnahnya kerinduanku tentang warna kita
kau aku lama tak bicara, tak apa
aku menerjang keheningan, meradang rupa
dan aku berpaling dari bayangan tentangmu
marah, menegang, geletar... merindu
tak kuabaikan gejolak memanggil gelisahku
dan sore ini aku tergugu duduk layu
ketika semua meluruh jatuh merapuh
meninggalkan suara sunyi dan sesang sepi
kebisuan yang menyekap berbalut gelap
semua yg pekat meremang dan hilang
selain desir angin menggurat di nadiku
selalu ada namamu
(10 May 1992)
No comments:
Post a Comment