*sebuah catatan rindu yang menyentak liar...
dulu sering kusampaikan rindu lewat tatapan bintang
sambil kumenghitung degup yang bertalu
berapa lama waktu menjadi perentang
di antara hatimu dan hatiku
malam demi malam, kusapa bintang sampai pagi
ritualku melafal namamu, sambil berbisik..
‘adakah kau mengingatku malam ini?’
seperti aku mengingatmu lewat nyanyian hati
yang bertitian di semilir angin dan daun kemerisik
keheningan yang dalam selalu saja terusik
kini malam dan bintang seperti tak lagi bicara
tak lagi menyampaikan kabar tentangmu disana
adakah kau menatap jendela;
malam demi malam, kusapa bintang sampai pagi
ritualku melafal namamu, sambil berbisik..
‘adakah kau mengingatku malam ini?’
seperti aku mengingatmu lewat nyanyian hati
yang bertitian di semilir angin dan daun kemerisik
keheningan yang dalam selalu saja terusik
kini malam dan bintang seperti tak lagi bicara
tak lagi menyampaikan kabar tentangmu disana
adakah kau menatap jendela;
dan bercakap denganku?
lewat selarik binar cahaya kejora
seperti aku selalu mengadukan rinduku
pada bintang di ufuk yang sama
lewat selarik binar cahaya kejora
seperti aku selalu mengadukan rinduku
pada bintang di ufuk yang sama
malam kini serenta menyepi mati sunyi
kecuali desau angin yang kosong dan parau
membawaku tenggelam dalam mimpi-mimpi galau
larut dalam rindu yang malu-malu sembunyi
kecuali desau angin yang kosong dan parau
membawaku tenggelam dalam mimpi-mimpi galau
larut dalam rindu yang malu-malu sembunyi
rindu padamu!
(Jan 1993)
(Jan 1993)
No comments:
Post a Comment