terpuruk aku, ketika kau tinggalkan
musim demi musim berjalan
lembar demi lembar cinta kutuliskan
terjerembab, aku merinduimu
waktu demi waktu
kekosongan berkata, kau tak pernah ada
beberapa musim tak ada beda
dan hati mulai bertanya ketika dia datang
aku mencintainya, dan ia mengisiku
lalu janji sakral kemudian mengikatku
lunglai aku, ketika kau datang kembali
dan hati kita sama-sama bernyanyi
tentang rindu kita yang terpanggang waktu
jadi, jika biduk kita telah sama berisi
kemana perjalanan kita berikutnya?
hendak kemanakah, kita?
(12 Mei 1992)
-after the talk
No comments:
Post a Comment